KEKERASAN CAROK DI MADURA

materi-carok1

REFLEKSI METAFISIS ATAS MAKNA SUBSTANTIF CAROK DALAM BUDAYA MADURA

Oleh : Tulus Budi Santoso

Kata Kunci: Carok, Substansi, Relasionalistik, Substansionalistik

Pendahuluan

Sebelum membahas dan mengupas tentang formulasi pengertian carok, terlebih dahulu akan dikupas dan dibahas tentang pengertian harga diri (martabat) dalam kaitannya dengan perasaan malu (malo), ketika terjadi pelecehan. Kedua hal ini merupakan faktor pemicu utama orang Madura melakukan carok selain faktor lainnya. Semua kasus carok selalu bersumber dari perasaan malo atau terhina pada diri pelaku, karena harga dirinya dilecehkan. Dengan kata lain, orang Madura yang dilecehkan harga dirinya akan merasa malo kemudian melakukan carok terhadap orang yang melecehkan itu. Perasaan malo tidak selalu hanya muncul secara sepihak, tetapi ada kalanya pada kedua belah pihak (Latief Wiyata, 2002:170).

Pelecehan harga diri bisa juga diartikan dengan pelecehan terhadap kapasitas diri. Padahal kapasitas diri seseorang secara sosial tidak dapat dipisahkan dengan peran dan statusnya dalam struktur sosial. Peran dan status sosial ini dalam prakteknya tidak cukup hanya disadari oleh individu yang bersangkutan, melainkan harus mendapat pengakuan dari orang atau lingkungan sosialnya. Bahkan pada setiap bentuk relasi sosial antara yang satu dengan yang lain harus saling menghargai peran dan status sosial masing-masing. Akan tetapi, ada kalanya hal ini tidak dipatuhi. Bagi orang Madura tindakan tidak menghargai dan tidak mengakui atau mengingkari peran dan status sosial sama artinya dengan memperlakukan dirinya sebagai orang yang tada’ ajina (tidak berharga lagi) dan pada gilirannya menimbulkan perasaan malo (Latief Wiyata, 2002: 171).

Dalam realitasnya, perasaan malo dapat tereskalasi ke lingkup yang lebih luas (keluarga dan masyarakat). Hal ini bisa terjadi bila pelecehan harga diri tersebut telah menyangkut pula harga diri keluarga dan masyarakat. Tindakan mengganggu istri orang atau perselingkuhan merupakan bentuk pelecehan harga diri paling menyakitkan bagi pria Madura. Oleh karenanya tiada cara lain untuk menebusnya kecuali membunuh orang yang mengganggunya (Latief Wiyata, Perasaan malo akibat terjadinya gangguan terhadap istri tidak hanya dirasakan—terutama—oleh suami, tetapi juga oleh kerabat dan lingkungan sosialnya (Latief Wiyata, 2002: 174).

Perlindungan terhadap istri menjadi bagian dari kewajiban masyarakat, sehingga tindakan mengganggu kehormatan mereka selalu dimaknai sebagai tindakan arosak atoran (merusak tatanan sosial). Uraian tersebut di atas semakin memperjelas pandangan orang Madura bahwa setiap bentuk gangguan terhadap istri merupakan pelecehan terhadap harga diri yang menimbulkan perasaan malo terutama pada pihak suami, keluarga dan pada lingkungan sosial. Perasaan malo suami muncul karena peran dan fungsinya melindungi istri dianggap gagal. Bagi pihak keluarga perempuan, perasaan malo berkaitan dengan kegagalan melindungi anak perempuannya.

Sedangkan bagi pihak keluarga laki-laki berkaitan dengan kegagalan dalam memilih menantu yang baik. Tindakan mengganggu kehormatan istri secara sosial dinilai sebagai arosak atoran (merusak tatanan sosial), sehingga anggota masyarakat yang lain, setidaknya dalam lingkup komunitas kampong (kampung), akan merasakan hal yang sama. Oleh karenanya dapatlah dipahami jika mereka mendukung ketika terjadi carok. Jika terjadi permasalahan berupa gangguan terhadap istri, ada dua alternative untuk diambil sebagai suatu keharusan yang tidak dapat ditawar lagi. Pertama, membunuh laki-laki yang telah mengganggu itu. Kedua, membunuh keduanya, yaitu laki-laki yang mengganggu sekaligus dengan istrinya sendiri. Alternatif pertama ditempuh jika tindakan laki-laki pengganggu istrinya hanya merupakan tindakan sepihak. Akan tetapi, jika keduanya telah diyakini menjalin hubungan cinta, apalagi jika sang suami mengetahui atau menyaksikan langsung adanya persetubuhan keduanya, maka alternatif kedualah yang diambil. Akan tetapi, dalam kenyataannya bukan hanya gangguan terhadap kehormatan istri yang dapat mengusik harga diri orang Madura, sehingga menimbulkan carok. Setiap bentuk tindakan yang dapat menimbulkan perasaan malo selalu berakhir dengan carok (Latief Wiyata, 2002: 175-176).

Keberhasilan pelaku carok dalam membunuh musuhnya selalu menimbulkan perasaan puas dan lega. Bahkan tidak jarang justru dapat menimbulkan pula perasaan bangga (Latief Wiyata, 2002: 178). Salah satu manifestasi kebanggaan tersebut adalah clurit. Clurit adalah media untuk mentransfer kebanggaan kepada anak cucu karena menjadi simbol keturunan orang jago (Latief Wiyata, 2002: 214-215).

Perasaan puas dan lega (bahkan juga bangga) tidak saja dialami oleh pelaku carok yang dapat membunuh musuhnya, melainkan dialami juga oleh pelaku carok yang belum berhasil membunuh musuhnya, tetapi dapat menciderainya sehingga menderita luka parah. Tidak akan merasa puas jika hanya dapat menciderai musuhnya dengan luka ringan. Oleh karena itu, orang Madura pada umumnya tidak akan menyebut tindakan kekerasan semacam ini (yang hanya menyebabkan luka ringan) sebagai carok, melainkan sebagai perkelahian biasa (atokar).

Dalam konteks ini, bagi orang Madura carok nampaknya lebih ditentukan oleh hasil akhir daripada niat atau tujuan awalnya. Dengan demikian, tidak semua tindakan kekerasan yang dilakukan oleh orang Madura dapat diartikan sebagai carok, sebagaimana anggapan orang di luar kebudayaan Madura (Latief Wiyata, 2002: 180-181).

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa carok merupakan suatu tindakan atau upaya pembunuhan (karena terkadang berupa penganiyaan berat) menggunakan senjata tajam—pada umumnya clurit—yang dilakukan oleh kaum pria (tidak pernah perempuan) terhadap pria lain, yang dianggap telah melakukan pelecehan terhadap harga diri (baik secara individu sebagai suami maupun secara kolektif yang mencakup kerabat atau keluarga), terutama berkaitan dengan masalah kehormatan istri sehingga membuat malo. Tindakan atau upaya pembunuhan untuk menebus perasaan malo ini selain mendapat dorongan juga selalu mendapat dukungan dan persetujuan sosial.

Selain itu, carok merupakan media kultural bagi pelaku yang berhasil mengalahkan musuhnya untuk memperoleh predikat sebagai oreng jago/bejingan atau jika pelaku carok telah berpengalaman membunuh maka predikat sebagai oreng jago/bejingan menjadi semakin tegas, sehingga keberhasilan dalam carok selalu mendatangkan perasaan puas, lega dan bahkan bangga bagi pelakunya.

Dengan demikian, pengertian carok paling tidak harus mengandung lima unsur, yaitu tindakan atau upaya pembunuhan antar pria, pelecehan harga diri terutama berkaitan dengan kehormatan perempuan (istri), perasaan malo, adanya dorongan dan dukungan serta persetujuan sosial disertai perasaan puas, bangga bagi pemenangnya (Latief Wiyata, 2002: 184-185).

METAFISIKA SUBSTANSI YANG RELASIONALISTIK

Metafisika substansi yang dipakai sebagai “clurit analisis” dalam hal ini dikhususkan pada metafisika substansi yang bersifat relasionalistik. Konsep metafisika substansi yang relasionalistik mengacu pada pemikiran Immanuel Kant tentang substansi yang menekankan pada relasi sebagai hal yang fundamental dalam realitas.

Substansi sebagai salah satu kategori merupakan aturan yang mengatur setiap pengalaman manusia yang menghendaki sensasi tersebut diatur sedemikian rupa sehingga kita mengalami objek material. Di sinilah jawaban Kant untuk para rasionalis dan empirisis (Solomon & Higgins, 2002: 413). Pemikiran Kant tentang konsep substansi hanya mengenai substansi fenomenal, ia tidak dapat diterapkan pada dunia di luar pengalaman, seperti Tuhan, kebebasan dan jiwa. Mengenai tata hubungan antara substansia dan aksidensia, I. Kant mengatakan bahwa keduanya bukan merupakan relasi metafisik, tetapi relasi empiris dan temporal yang menggejala dalam dunia penampakan. Adanya relasi yang terjadi pada ruang dan waktu dalam dunia penampakan, dimungkinkan hanya karena adanya substratum (substansi metafisik). Sebagai substratum substansi sekurang-kurangnya memiliki dua karakteristik utama, yaitu substansi senantiasa menjadi subjek dan tidak pernah menjadi predikat dan substansi bersifat permanen, tidak pernah berubah (Joko Siswanto, 1995: 132-135).

TRADISI CAROK SEBAGAI SUBSTANSI YANG RELASIONALISTIK

Rumusan masalah yang menjadi mainstream dalam tulisan ini adalah “Apakah tradisi carok dalam masyarakat Madura itu suatu substansi”. Apabila tradisi carok merupakan suatu substansi, manakah aspek statisme dan dinamisme, aspek yang satu dan yang banyak serta manakah aspek transendensi dan imanensinya.

Sebelum penulis memaparkan metafisika tersembunyi “dibalik” tradisi carok, terlebih dahulu akan dikemukakan sebuah asumsi dasar dari tradisi carok tersebut.

Tradisi carok merupakan eksplisitasi pribadi, harkat dan martabat masyarakat Madura secara totalitas, yang mengandung berbagai unsur dalam dirinya sendiri. Unsur yang dimaksud adalah individualitas (bahwa carok merupakan pertarungan dengan menggunakan clurit, yang hampir selalu menekankan pada ke-aku-annya, sebagai seorang yang disebut jago) dan sosialitas (bahwa carok hampir selalu terkait dengan persoalan membela keluarga, sebagai wujud adanya saling melindungi keselamatan dan kehormatan keluarga), transendensi (bahwa carok merupakan wujud pengakuan masyarakat

Madura akan adanya konsep amanah, yaitu keluarga yang harus selalu dipelihara) dan imanensi (bahwa carok merupakan bagian tak terpisahkan dari kultur masyarakat Madura akan konsep kehormatan keluarga dan pribadi), otonomi (bahwa carok merupakan suatu keunikan dan keberlainan, yang dimanifestasikan oleh masyarakat Madura untuk merespons setiap peristiwa kemasyarakatan, yang menyangkut kehormatan dan ketersinggungan) dan korelasi (bahwa carok

merupakan suatu tradisi kekerasan, yang tidak bisa dipisahkan dari seluruh karakterisasi masyarakat Madura).

Berbagai aspek tersebut di atas, tidaklah dipandang secara sektoral (diekstrimkan), tetapi dipandang secara integral sebagai suatu hal yang membentuk keutuhan karakterisasi masyarakat Madura. Berdasarkan uraian asumsi dasar carok tersebut, dapatlah disimpulkan bahwa tradisi carok dalam masyarakat Madura merupakan suatu substansi, yang terdiri dari tiga aspek utama. Ketiga aspek tersebut adalah “Yang satu dan Yang banyak”, “Statisme dan Dinamisme” serta “Transendensi dan Imanensi”.

Yang Satu dan Yang Banyak dalam Tradisi Carok

Dalam tradisi carok hal “Yang Satu” dan “Yang Banyak” bermuara pada unsur individualitas dan sosialitas pada tradisi carok itu sendiri. Carok bukanlah menekankan pada Filsafat individualisme, yang hanya mementingkan keharuman dan kehormatan pribadi, sebagai sosok yang disegani ketika memenangi duel, dalam pertarungan carok. Akan tetapi, carok juga bukan jenis Filsafat kolektivisme, yang menekankan sosialitas, yaitu membela keselamatan dan

kehormatan keluarga. Carok dapat dikatakan sebagai tradisi yang mengakui dan menghargai keunikan dan otonomi individu, dalam kemampuannya bertarung dan mengekspresikan segala kehormatan dan kebanggaan pribadi, tetapi juga tidaklah mengabaikan adanya relasi antara kehormatan dan kebanggaan pribadi dengan keselamatan dan kehormatan keluarga.

Carok menekankan suatu prinsip bahwa relasi antara individualitas dan sosialitas harus ditandai dengan suatu keseimbangan. Oleh karenanya tradisi carok jelas menolak Filsafat individualisme, yang jelas-jelas hanya mementingkan kehormatan dan kebanggaan pribadi, dengan mengabaikan kehormatan dan keselamatan keluarga. Carok juga menolak Filsafat kolektivisme, yang juga hanya mementingkan kehormatan dan keselamatan keluarga, dengan mengabaikan kehormatan dan kebanggaan pribadi.

Pandangan tentang otonomi dan korelasi ini dalam masyarakat Madura dikenal dengan ungkapan: “Abango’ poteya mata etembang poteya tolang” (lebih baik mati daripada menanggung malu). Hal ini berarti menekankan pada kehormatan dan kebanggaan pribadi tanpa mengabaikan kehormatan dan keselamatan keluarga.

Hubungan antara “Yang Satu” dengan “Yang Banyak”, yaitu bahwa “Yang Satu” dengan “Yang Banyak” tercipta adanya hubungan saling menghargai, menghormati, mempengaruhi dan saling menjaga kehormatan, keselamatan dan martabat masing-masing. Relasi “Yang Satu” dengan “Yang Banyak” pada akhirnya akan melahirkan suatu komitmen untuk saling menjaga keharmonisan tatanan sosial yang ada.

Salah satu komitmen dalam konteks ini adalah anggapan masyarakat Madura yang terkait dengan persoalan tindakan mengganggu istri orang lain. Perbuatan ini dinilai sebagai suatu hal yang merusak tatanan sosial (arosak atoran). Jika tindakan ini dibiarkan berlarut-larut, maka tatanan sosial secara keseluruhan akan rusak. Oleh karena itu, demi menjaga agar tatanan sosial yang terlanjur dirusak itu menjadi normal kembali, pelakunya harus segera dibunuh. Dengan demikian kematian merupakan resiko yang harus diterima, sebagai “bentuk pertanggung jawaban” atas tindakannya itu. Jika pelaku pelecehan seksual itu tidak segera dibunuh, maka kerusakan tatanan sosial yang menyebabkan terganggunya ketenteraman hidup masyarakat, akan terus berlangsung. Jika ini terjadi, orang yang istrinya diganggu akan terus dicemoohkan oleh lingkungan sosialnya. Cemoohan ini merupakan suatu bentuk reaksi kultural sekaligus sanksi moral, karena suami tersebut dianggap tidak berani membunuh orang itu, demi memulihkan kerusakan tatanan sosial, yang sudah rusak. Sebaliknya, apabila carok segera dilaksanakan, maka bukan hanya pelaku dan kerabatnya yang merasa puas dan lega, tetapi juga masyarakat ikut berbahagia. Dalam konteks ini, dapat dikatakan bahwa carok merupakan bentuk pertanggung jawaban moral pelakunya dalam upaya pemulihan kembali tatanan sosial yang rusak (Latief Wiyata, 2002: 203-204).

Yang Tetap dan Yang Berubah Dalam Tradisi Carok

Tradisi carok sebagai simbol akan selalu terlekat dan tetap kepada masyarakat Madura, sebagai suatu karakter yang khas dari suatu ras dalam ke- Bhinneka Tunggal Ika-an. Hal ini tercermin dalam ungkapan: “Jika laki-laki Madura tidak berani melakukan carok, maka dia selain dianggap sebagai penakut (tako’an) juga bukan sebagai laki-laki (ta’ lalake’ ). Perempuan pun mencemoohkannya yang diungkapkan dalam sebuah kalimat, “Sayang saya perempuan, seandainya saya memiliki buah zakar sebesar cabai rawit, saya yang akan melakukan carok” (Imron, 1986: 12). Bahkan ada pula yang mengatakan: Mon ta ‘ bangal acarok ja’ ngako oreng Madura” (jika tidak berani melakukan carok jangan mengaku sebagai orang Madura) (Latief Wiyata, 2002: 194).

Uraian di atas menunjukkan bahwa carok merupakan salah satu cara orang Madura untuk mengekspresikan identitas etnisnya. Akan tetapi, simbolisasi carok tidak akan tuntas untuk diredefinisi dan ditafsir dalam hubungannya dengan masyarakat Madura, yang akan selalu berkembang dan berubah seiring perkembangan jaman. Hal inilah yang menunjukkan adanya dinamisme dalam tradisi carok, artinya bahwa tradisi carok akan selalu terbuka bagi suatu interpretasi dalam hubungannya dengan dinamika sosial-budaya, yang terjadi dalam masyarakat Madura.

Kalau kita mau menoleh sejenak pada sejarah carok sebelum kemerdekaan dibandingkan pengertian carok pada saat ini, jelas telah mengalami perubahan. Pada zaman sebelum kemerdekaan orang Madura yang akan melakukan carok didahului oleh perjanjian tentang kapan dan dimana carok akan dilaksanakan serta senjata tajam jenis apa yang akan digunakan. Bahkan ketika carok berlangsung orang-orang desa dapat menyaksikannya. Pada saat itu, carok merupakan suatu perang tanding untuk menguji keperkasaan seseorang, sehingga carok lebih mirip suatu pertandingan. Pemenangnya dianggap sebagai seorang

Bejingan/belantik/jagoan, sedangkan pihak yang kalah secara ksatria mengakui kekalahannya tanpa ada keinginan untuk membalas dendam (Latief Wiyata, 2002: 201).

Cara melakukan carok seperti ini sekarang sudah tidak ada lagi. Simbol selalu “berkaki dua”, sebuah kaki berakar pada bahasa dan kaki yang lain berakar dalam kenyataan kehidupan. Oleh karena itu simbol tidak mungkin ditafsir sampai tuntas (Dibyasuharda, 1990: 239). Carok sebagai simbolisasi masyarakat Madura dapat dipahami dan direfleksikan sebagaimana pemahaman simbol di atas. Dengan kata lain, selama orang Madura tetap memaknai carok sebagai suatu proses pelampiasan kepuasan dan kebanggaan bahkan dendam, kemudian mewujudkannya dalam simbol berupa benda-benda yang erat kaitannya dengan peristiwa carok itu sendiri, maka selama itu pula orang Madura tidak akan pernah terlepas dari tindakan kekerasan, dalam upaya mencari penyelesaian konflik yang bersumber pada pelecehan harga diri (Latief Wiyata, 2002: 215). Tradisi carok akan teraktualisasi dan terbuka bagi setiap penafsiran bersamaan dengan adanya perubahan masyarakat Madura itu sendiri, baik secara ekonomis, edukatif dan pemahaman pandangan dunia.

Aspek Transendensi dan Imanensi Dalam Tradisi Carok

Pada bagian sebelumnya dijelaskan bahwa tradisi carok mengandung aspek individualitas (kehormatan dan kebanggaan pribadi) dan aspek sosialitas (keselamatan dan kehormatan keluarga). Jadi jelaslah bahwa dalam tradisi carok ditemukan aspek transendensi dan imanensi. Keluarga sebagai amanah dari Yang Maha Kuasa untuk dipelihara, dimanifestasikan oleh masyarakat Madura dalam bentuk memberikan perlindungan dan kehormatan, berupa tradisi carok. Jadi keluarga dalam hal ini dipandang sebagai kenyataan yang bersifat spiritual, sedangkan diri-pribadi dipandang dalam arti dunia infrahuman, yaitu hubungan antar sesama (diri-pribadi dengan keluarga).

Dalam konteks yang lain, aspek transendensi ditemukan pada adanya suatu kepercayaan masyarakat Madura bahwa arwah orang yang mati karena carok pasti akan menjadi jrangkong atau din-dadin (jadi-jadian), yang selalu berkeliaran di malam hari dan mengganggu para tetangganya, selama 40 hari sejak penguburannya. Munculnya jrangkong atau din-dadin ini diindikasikan sebagai pertanda bahwa almarhum tidak diterima oleh Tuhan atau orang Madura menyebutnya sebagai ta’ esapora. Setelah para tetangga ramai membicarakan tentang munculnya jrangkong atau din-dadin, keluarganya segera mengadakan selamatan (membaca doa-doa di rumah), kemudian menuju ke kuburan meletakkan segenggam bu’u (tepung jagung, jumlahnya lebih banyak lebih baik) di atas pusara almarhum sambil mengucapkan kata-kata, “Janganlah engkau berkeliaran, lebih baik menghitung bu’u ini sampai habis”. Biasanya setelah itu jrangkong atau din-dadin tidak muncul. Tetapi bila masih juga tetap berkeliaran, keluarganya mengadakan selamatan lagi dan biasanya pula setelah itu jrangkong atau din-dadin tidak muncul untuk selamanya.

Ada kalanya jrangkong atau din-dadin arwah pelaku carok terus muncul hingga melebihi jangka waktu 40 hari. Pada saat itu, jrangkong atau din-dadin yang semula hanya berupa suara-suara atau bayangan berubah menjadi baung (sejenis jadi-jadian berbentuk binatang sebesar kambing, berbulu hitam dengan mata seolah-olah bersinar dan menyorot tajam). Bila hal ini terjadi, selain dimaknai bahwa almarhum sangat menderita di alam baka juga diyakini karena arwahnya tidak diterima oleh Tuhan.

Sedangkan aspek imanensinya terpatri pada suatu keyakinan bahwa bagi arwah pelaku carok, bukan hanya karena ta’ esapora tetapi oleh orang Madura dimaknai sebagai pertanda ketidak ikhlasan almarhum menerima kematian. Semua ini dianggap sebagai pertanda atau isyarat dari almarhum bahwa kematiannya harus ditebus, dalam arti mengharapkan adanya carok balasan.

Dengan demikian, bagi orang Madura kematian tidak dipandang sebagai suatu fenomena alamiah, yang menyebabkan terputusnya interaksi manusia dengan dunia kehidupan. Interaksi tersebut tetap berlangsung melalui sikap dan perilaku atau tradisi tentang kematian, yang diatur oleh proses sosial-budaya yang berlaku (Latief Wiyata, 2002: 210-211). Jadi dalam tradisi carok ada keseimbangan antara dua aspek tersebut. Sikap pembenaran terhadap tradisi carok oleh masyarakat Madura tercermin dalam sikap positif terhadap pelaku carok. Kunjungan terhadap pelaku carok selama menjalani hukuman penjara selain dilakukan oleh sanak kerabat secara rutin (biasanya sekali atau dua kali seminggu sesuai dengan aturan yang dikeluarkan oleh rumah tahanan atau lembaga pemasyarakatan), juga dilakukan oleh para tetangga dan semua teman-teman dekat terpidana.

Hal ini tidak akan terjadi jika terpidana dihukum penjara karena kasus pencurian. Jika seseorang dipidana hukuman penjara karena kasus ini, maka jangankan tetangga atau teman-teman dekat yang akan menjenguknya, anggota keluarganya sendiri bisa dipastikan tidak akan melakukan hal itu (Latief Wiyata, 2002: 216) Hal ini menunjukkan bahwa walaupun tradisi carok merupakan tindakan kriminalitas yang secara hukum formal dan ajaran agama dilarang, tetapi carok justru memperoleh justifikasi dan legitimasi secara sosial-budaya. Ketika pelaku carok meninggal, dukungan atau simpati para tetangga dan teman korban carok yang terbunuh begitu besar, mulai dari ketika penguburan hingga penyelenggaraan upacara pengajian (tahlilan), yang diselenggarakan oleh keluarganya (Latief Wiyata, 2002: 227).

Di samping itu sikap pembenaran terhadap tradisi carok oleh masyarakat Madura diilhami oleh pandangan yang bersifat normatif-ontologis-transendental. Pandangan ini bertumpu pada suatu pemikiran bahwa menjaga keselarasan, keserasian, keseimbangan dan totalitas merupakan sikap yang baik. Prinsip umum inilah yang dijadikan dasar pembenaran oleh masyarakat Madura terhadap para pelaku carok. Bukankah para pelaku carok telah menerapkan dengan baik prinsip normatif-ontologis-transedental, yaitu menjaga adanya harmonisasi dan totalitas dari aspek-aspek ontologis di atas. Totalitas artinya suatu pandangan masyarakat Madura bahwa perilaku carok dianggap benar apabila berkesesuaian dengan totalitas relasi yang berkaitan dengannya. Dan perilaku carok dianggap kejahatan apabila kesesuaian itu tidak ada. Selaras dan serasi artinya suatu keyakinan ontologis bahwa pembenaran perilaku carok dalam masyarakat Madura, dapat diperoleh kalau yang bersangkutan mampu menyerasikan dan menyelaraskan semua aspek, yaitu individualitas dan sosialitas, aspek spiritualitas (transendensi) dan materialitas (imanensi). Keseimbangan artinya pandangan terhadap para pelaku carok yang berstruktur “bipolar”; sehingga harus selalu dijaga keseimbangannya. Akan tetapi, konsep keseimbangan, keselarasan dan keharmonisan tidaklah mematikan dan menafikan aspek dinamika masyarakat Madura, yang berpengaruh langsung pada adanya pemahaman dan pemaknaan ulang tradisi carok.

PERBINCANGAN KRITIS ATAS TRADISI CAROK

Carok oleh masyarakat Madura dianggap semata-mata sebagai urusan lakilaki, bukan urusan perempuan. Karena memang semua pelaku carok adalah lakilaki, sehingga pembunuhan yang dilakukan terhadap perempuan tidak akan disebut sebagai carok, tetapi sebagai pembunuhan biasa atau mate’e oreng. Ungkapan yang berbunyi: “Oreng lake’ mate acarok, oreng bine’ mate arembi’” (laki-laki mati karena carok, perempuan mati karena melahirkan) semakin mempertegas anggapan tersebut. Ungkapan ini mengindikasikan bahwa orang Madura memaknai carok sebagai sesuatu hal yang mempunyai kesamaan dengan melahirkan, karena keduanya sama-sama mengandung resiko kematian. Bagi orang Madura sudah pada tempatnya jika seorang laki-laki mati terbunuh dalam peristiwa carok. Begitu pula dengan orang perempuan, sudah pada tempatnya jika mati ketika melahirkan anak (Latief Wiyata, 2002: 177).

Kesamaan makna antara carok dan melahirkan dilihat dari segi resikonya memang tidak dapat diingkari. Tetapi apabila dilihat dari konsep gender, penyamaan makna kedua hal itu sangat tidak tepat. Sebab melahirkan sudah merupakan kodrat kaum perempuan, yang berlaku secara universal. Sedangkan “kewajiban” laki-laki melakukan carok hanyalah merupakan manifestasi dari suatu realitas sosial-budaya masyarakat Madura, yang telah diterima dan menjadi kesepakatan umum. Kenyataan bahwa semua pelaku carok adalah laki-laki, mengindikasikan tentang makna kejantanan. Artinya setiap yang memenangi carok akan diberi predikat sebagai oreng jago/bejingan. Anggapan ini menjadi sebuah tanda tanya besar ketika menyaksikan sebuah kebiasaan melakukan carok, dengan cara nyelep (menyerang musuh dari arah belakang atau samping ketika musuh sedang lengah). Kebiasaan ini paling tidak telah meruntuhkan “mitos” bahwa carok identik dengan kejantanan dan predikat oreng jago, karena carok telah bergeser menjadi brutalisme dan egoisme. Lebih tegasnya, para pelaku carok menjadi semakin membabi-buta dalam menghabisi lawan atau musuhnya, tanpa mempedulikan lagi apakah lawan mereka dalam keadaan siap atau tidak. Pergeseran ini tampaknya mencerminkan kian kuatnya pelampiasan hasrat membunuh, sehingga konflik harus segera diakhiri secepat mungkin, dalam bentuk pembunuhan sepihak. Pada akhirnya carok berkembang menjadi sebuah prinsip seperti “tujuan menghalalkan cara”.

Secara kultural kenyataan ini justru merupakan sisi hitam dari kebudayaan Madura, yang sebenarnya memiliki juga nilai budaya, yang berkaitan dengan kehidupan penuh harmoni sebagaimana tercermin dalam suatu ungkapan: Rampa’ naong baringen korong” (suasana teduh penuh kedamaian layaknya berada di bawah pohon beringin yang rindang). Anggapan yang lain, yaitu bahwa carok menjadi semacam “obat mujarab” untuk mengatasi masalah yang menyangkut pelecehan harga diri, dengan tanpa masalah. Adanya kenyataan bahwa di satu pihak keluarga yang menang carok membenarkan bahkan mendorong dan mendukung pelaksanaannya dan di lain pihak keluarga para korban carok menaruh dendam pada pembunuhnya, menjadi antitesis dari anggapan di atas. Karena setiap peristiwa carok sangat potensial bagi terjadinya carok lanjutan. Oleh karena setiap carok selalu didahului oleh perasaan malo (malu), maka dalam carok ada proses atau rangkaian dialektik antara malo, dorongan atau dukungan dan persetujuan serta dendam. Ini berarti bahwa carok sebagai alternatif tunggal setiap sengketa yang berporos pada pelecehan harga diri, kiranya perlu dipikirkan ulang, karena setiap peristiwa carok justru menimbulkan carok lanjutan dan perasaan dendam yang berkepanjangan. Carok bukan merupakan cara penyelesaian konflik yang efektif, melainkan lebih merupakan proses reproduksi kekerasan, yang akan selalu menimbulkan tindakan kekerasan baru (carok turunan).

Kritik intern ini ingin penulis akhiri dengan sebuah pernyatan: “Carok pada dasarnya merupakan kekurangmampuan para pelaku carok mengekspresikan budi bahasa, karena mereka lebih mengedepankan perilaku agresif secara fisik, untuk menghilangkan nyawa orang yang dianggapnya musuh, sehingga konflik yang berpangkal pada pelecehan harga diri tidak akan pernah mencapai rekonsiliasi”. “Carok pada dasarnya juga bukan merupakan simbol kebanggaan (ketika memenangi carok), melainkan simbol keaiban dan kenistaan, karena dengan melakukan carok mereka telah merampas hak hidup seseorang.

METAFISIKA SUBSTANSI YANG SUBSTANSIONALISTIK

Penelaahan carok dengan pendekatan metafisika substansi yang relasionalistik justru menjadi “mesin analisis baru”, untuk ikut serta memberikan justifikasi dan legitimasi terhadap tradisi carok, dalam masyarakat Madura. Disamping itu metafisika substansi yang relasionalistik hanya menekankan pada aspek relasi, tetapi mengabaikan aspek otonomi, keunikan dan keberlainan substansi.

Oleh karenanya perlu dihampiri dengan sebuah pendekatan baru, sebagai metafisika tandingan untuk dijadikan referensi pembanding, dalam memaknai tradisi carok. Metafisika tandingan yang penulis maksud adalah mengkaji tradisi carok berdasarkan pendekatan metafisika substansi yang substansionalistik. Untuk memperoleh pemahaman mengenai metafisika substansi yang substansionalistik, penulis hanya mengambil pemikiran seorang tokoh yang hidup pada abad Kuno, yaitu Aristoteles. Secara garis besar ia menerima pendapat bahwa ada suatu lapisan kenyataan yang paling dasar, dapat berdiri sendiri dan bersifat tetap, yaitu substansi. Aristoteles menegaskan bahwa persoalan tentang apakah substansi itu identik dengan persoalan tentang apakah “Ada” itu. Dalam ajarannya tentang kategori, Aristoteles mengadakan distingsi antara “Ada” yang substansial dan “Ada” yang non-substansial. Dalam “kapasitasnya” sebagai “Ada” yang substansial, substansi dapat berdiri sendiri, dapat menerima keteranganketerangan.

Sedangkan dirinya sendiri tidak dapat ditambahkan sebagai keterangan pada sesuatu yang lain.

Pada konteks ini substansi disebut sebagai subjek untuk kategori yang lain. Aristoteles berpendapat bahwa apa yang sungguh-sungguh nyata adalah substansi konkrit dan individual, yaitu kesatuan materi dengan bentuk. Ia dapat ditunjuk dengan kata “itu” dan “ini”. Secara skematis antara substansi dengan aksidensi sebenarnya sudah nampak adanya unsur relasi. Kategori-kategori sebenarnya mengatakan sesuatu mengenai bagaimana hubungan antara benda yang satu dengan benda yang lain. Akan tetapi, relasi tetap dipahami sebagai aksidensi-substansi, karena substansilah yang paling penting. Oleh karenanya ajaran Aristoteles tentang substansi lebih menekankan pada aspek statisme. Hal ini bisa dipahami mengingat bahwa perubahan atau dinamika yang terjadi bukan pada substansi itu sendiri, tetapi terbatas pada aksidensi.

Dengan demikian konsep substansi dalam ajaran Aristoteles dapatlah disimpulkan bahwa substansi dapat berdiri sendiri, dapat ditunjuk dengan kata “ini” atau ”itu” (konkret individual) dan bersifat statis (Joko Siswanto, 1995:192-193).

TRADISI CAROK SEBAGAI SUBSTANSI SUBSTANSIONALISTIK

Tradisi carok sebagai perilaku budaya dalam dirinya sendiri (tradisi carok — kalau boleh meminjam istilah das ding an sich-nya Kant dalam arti lain—sebagai das ding an sich”) sudah dapat dipastikan tidaklah bersifat nir makna. Apa

gerangan yang kita maksudkan bila berkata bahwa tradisi carok itu ada? Apa yang mau diungkapkan, bila kita menyadari bahwa di belakang segala perubahan ada sesuatu yang tetap, sesuatu yang bermakna dalam dirinya sendiri? Tradisi carok sebagai “das ding an sich”, yaitu carok dalam dirinya sendiri memiliki muatan makna. Tradisi carok sebagai substansi yang substansionalistik memiliki muatan makna yang mendasari segala motif perilaku carok. Bahwa sesuatu itu ada, bahwa sifatnya demikian, itu sudah merupakan putusan-putusan yang mengandaikan bahwa segala sesuatu yang ada dapat diungkapkan.

Dalam konsep substansi yang substansionalistik itu secara tersirat sudah terdapat petunjuk bahwa segala sesuatu dalam dirinya sendiri mengandung suatu arti atau nilai, yang bersifat independen dan berdikari. Tradisi carok yang kita amati dengan aneka perilaku dan motifnya lalu secara langsung bertalian dengan

“kapasitas” manusia sebagai subjek, yang ingin mengungkapkan muatan makna tradisi carok tersebut.

Metafisika substansi yang substansionalistik hanyalah merupakan pencarian prinsip yang bersifat pertama, independen dan berdikari; untuk membuktikannya, harus diacukan pada sesuatu yang tidak berada di luar dirinya sendiri. Dalam terminologi Aristoteles, metafisika (substansi yang substansionalistik) merupakan pencarian prinsip pertama, independen dan berdikari yang jelas dalam dirinya sendiri (Sontag, 2002: 82-83).

Kekerasan itu esensial dalam tradisi carok. Segala aspek pembunuhan dan motifnya pada peristiwa carok merupakan sifat yang tumbuh dalam dirinya sendiri, sebagaimana biasanya sebagai suatu tradisi carok. Namun bahwasanya tradisi carok merupakan sesuatu yang berada dalam lingkup memelihara harkat, martabat, kebanggaan dan prestise sebagai oreng jago adalah aksidensi bagi eksistensi carok yang khas. Dapatkah kita menempatkan tradisi carok dalam masyarakat Madura yang tidak dapat direduksi, yang dengan memahami konsep tersebut kita akan mendapatkan dasar analisis dan pemahaman atas semua kekerasan dalam tradisi carok yang mungkin? Hal ini merupakan persoalan yang sangat penting bagi kemungkinan metafisika substansi yang substansionalistik.

Berpijak pada konsep dasar metafisika substansi yang substansionalistik, yaitu lebih menekankan pada aspek otonomi dan aspek statisme substansi, maka tradisi carok sebagai substansi yang bersifat substansionalistik, di dalamnya terkandung dua unsur utama. Kedua unsur tersebut adalah aspek otonomi dan aspek statisme.

1. Aspek Otonomi

Makna substantif tradisi carok dalam ke-otonomi-annya yang bersifat substansionalistik, menempatkan aspek kekerasan pada lapisan kenyataan paling dasar, berdikari dan bersifat tetap dari tradisi carok. Tindakan kekerasan dalam tradisi carok hampir selalu diawali oleh peristiwa pelecehan harga diri. Dalam konteks aspek ini, walaupun tradisi carok sebagai “das ding an sich” merupakan kekerasan, tetapi carok mendapatkan tempat yang “terhormat” dan “istimewa”, dengan tidak menyebut pembunuh bagi yang berhasil menghabisi nyawa lawannya dan tidak ada pula kutukan atau kecaman. Kekerasan khas gaya Madura yang terdapat dalam tradisi carok inilah, yang kemudian disebut sebagai keunikan dan keberlainan carok dibandingkan bentuk kekerasan yang lain.

Aspek otonomi dalam tradisi carok yang mengandung unsur keunikan dan keberlainan, tidaklah berarti bahwa ada relasi antara tradisi carok dengan aspek sosial-budaya masyarakat Madura. Akan tetapi, keunikan dan keberlainan itu menyangkut pada aspek penyebab (pelecehan harga diri dan perasaan malu) dan pelaksanaan (cara-cara melakukan carok) tindakan kekerasan dalam tradisi carok itu sendiri. Artinya bahwa ketika kata carok itu terucap, maka yang pasti akan ada rangkaian proses peristiwa, yaitu pelecehan harga diri-perasaan malupelaksanaan carok-pembunuhan. Rangkaian ini jelas mengandung “relasi” satu arah seperti yang dimaksudkan oleh Aristoteles, yaitu selalu aksidensia “terarah” kepada substansia, tetapi tidak sebaliknya. Oleh karenanya pelecehan harga diri, perasaan malu dan tindakan konkrit berupa carok dengan segala modusoperandinya sebagai aspek otonomi, hanyalah memberi “warna” kepada substansi carok, yaitu kekerasan sebagai kenyataan dasariah dalam tradisi carok.

2. Aspek Statisme

Pada aspek ini tradisi carok tidaklah tersekat-sekat dalam ruang dan waktu,tidak terpengaruh pada adanya proses historis dan dinamisasi masyarakat Madura. Dengan perkataan lain, sepanjang sejarah adanya tradisi carok ia tetaplah merupakan tindakan kekerasan, yang berujung pada penghilangan nyawa orang lain. Oleh karenanya menjadi semakin jelas bahwa unsur kekerasan merupakan sesuatu yang inheren dan tidak bisa dilepaskan dari tradisi carok dalam masyarakat Madura.

Melalui pengamatannya terhadap tradisi carok dalam masyarakat Madura, Touwen-Bouwsma (1989: 162) mengungkapkan bahwa tradisi carok merupakan upaya pembunuhan untuk menjaga harga diri dan kehormatan. Bahkan dia juga mengamati adanya pembunuh bayaran dalam beberapa kasus carok. Dalam konteks ini tampaknya Touwewn-Bouwsma ingin mengatakan bahwa kekerasan merupakan sesuatu yang terlekat dan bersifat tetap dalam setiap peristiwa carok, yang terjadi dalam masyarakat Madura dengan pembunuhan sebagai indikasinya.

Pada bagian lain Touwen-Bouwsma menyatakan bahwa orang Madura dan pisaunya adalah satu. Tangannya selalu siap untuk merampas dan memotong. Dia sudah terlatih untuk menggunakan segala macam senjata, tetapi paling ahli dalam menggunakan arit. Tanpa arit ini dia tidak lengkap, hanya setengah laki-laki, orang liar yang sudah dijinakkkan (1989: 159).

Dengan kutipan di atas, penulis ingin menegaskan bahwa unsur kekerasan dalam tradisi carok merupakan hal yang biasa pada masyarakat Madura, terutama jika menyangkut kehormatan diri yang dilecehkan. Oleh karenanya tidaklah terlalu salah jika orang luar Madura beranggapan bahwa orang Madura bertemperamen tinggi, pendendam dan suka melakukan tindakan kekerasan. Berdasarkan uraian di atas, yaitu aspek otonomi dan statisme dalam tradisi carok, maka dapatlah disimpulkan bahwa tradisi carok dengan pendekatan metafisika substansi yang substansionalistik, merupakan tindakan kekerasan, yang berujung pada pembunuhan. Artinya bahwa unsur kekerasan merupakan kenyataan paling dasariah, berdikari dan bersifat tetap dalam tradisi carok pada masyarakat Madura.

Dengan hasil kesimpulan di atas, penulis ingin mengutarakan bahwa secara normatif-etis-fundamental, tradisi carok tidaklah dapat dibenarkan. Normatif-etisfundamental penulis maksudkan sebagai tolok ukur pembanding terhadap tolok ukur yang lain, yaitu normatif-ontologis-transendental. Dengan tolok ukur normatif-ontologis-transendental memungkinkan adanya sikap pembenaran terhadap tradisi carok, tetapi tradisi carok menjadi suatu perilaku yang tidak dapat dibenarkan, dengan menggunakan tolok ukur normatif-etis-fundamental. Normatif-etis-fundamental merupakan tolok ukur kebenaran terhadap tradisi carok, yang berpijak pada konsep “muka” (visage)-nya Emmanuel Levinas. Oleh karena itu sebelum mengamati lebih jauh tentang tradisi carok, penulis ingin mengupas tuntas pemikiran Emmanuel Levinas tentang visage, secara ringkas.

Pesan inti Levinas adalah agar kita ingat bahwa sejak semula, begitu kita bertemu dengan orang lain, kita bertanggung jawab atasnya. Bertanggung jawab atas keselamatannya, bertanggung jawab dalam kesadaran intuitif bahwa orang lain itu mudah terluka, amat peka, seluruhnya terserahkan kepada saya. Tanggung jawab itu adalah data pertama yang mendasari segala sikap yang diambil dengan sengaja kemudian. Data paling mendasar yang menjadi titik tolak segala sikap dan tindakan saya selanjutnya adalah bahwa saya berada demi orang lain,

bertanggung jawab atas keselamatannya, berada di tempatnya untuk menanggung bebannya, secara a priori dan tidak timbal balik, artinya tanpa perhatian atas tanggung jawab orang lain atas saya.

Kenyataan eksistensial itu membuka suatu kepastian amat mendasar. Bahwa yang pertama adalah kebaikan, dan bukan kejahatan. Kita secara menyeluruh dikuasai oleh Yang Baik, pasivitas kita menunjukkan bahwa kita “dipilih” oleh Yang Baik. Intuisi dasar Plato bahwa idea Yang Baik dan bukan Yang Satu atau Yang Ada sebagai idea pertama yang dituju oleh segala pengada, yang menjadi daya tarik paling dasar segala dinamika dalam dunia yang ada, diangkat kembali oleh Levinas. Di titik paling pertama, “di seberang Ada”, Yang Baik muncul sebagai cakrawala yang sudah mencakup semuanya, termasuk segala salah jalan kemudian. “Etika di sini masuk ke dalam diskursus filosofis yang semula semata-mata ontologis” (Magnis-Suseno, 2000: 101-102).

Dengan demikian, etika Levinas dapat dijuluki etika penebusan. Etikanya bukan etika dalam arti keterampilan filosofis biasa. Etikanya adalah sebuah etika fundamental. Fundamental dalam arti bahwa data paling pertama eksistensi kita adalah tanggung jawab terhadap sesama, jadi sikap yang positif dan tidak negatif. Panggilan untuk “menebus” sesama, untuk bersikap solider terhadap sesama, untuk menjadi “substitusinya”, merupakan kenyataan paling pertama yang kita hadapi. Karena itu, “metafisika”, “filsafat Pertama” menurut Aristoteles, bersifat etika dan bukan ontologi. Titik tolak paling pertama segala kesadaran saya bahwa saya harus mengakui dan melindungi orang lain dalam kelainannya. Dalam arti ini, “saya” dipanggil untuk “menebus sesama saya”. Ternyata manusia bukan serigala yang kemudian dengan susah payah harus dijinakkan, melainkan ia pertama-tama adalah “penjaga sesama saudara manusia” (Magnis-Suseno, 2000:106).

Etika fundamental Levinas ingin menunjukkan bahwa segenap sesama, tanpa kecuali menjadi tanggung jawab kita, yang mengikat kita untuk menghormati dan menyelamatkannya, karena dalam “keluhuran” “muka” (visage) segenap sesama tanpa kecuali “nampak” “kemuliaan” “Yang Tak Terhingga”. Dari pengertian etika fundamentalnya Emmanuel Levinas, penulis kemudian meramunya menjadi tolok ukur yang bersifat normatif—walaupun ajaran “muka”nya Levinas tidak bersifat normantif. Yang penulis maksudkan dengan normatif-etis-fundamental adalah suatu konsep bahwa keunikan dan keberlainan “orang lain” menjadi totalitas tanggung jawab “saya”, yang bersifat keharusan. Artinya secara normatif kita harus memperhatikan orang lain, harus menghormatinya dalam keunikan dan keberlainannya, harus bersedia bertanggung jawab atasnya.

Secara metafisis normatif-etis-fundamental menunjukkan bahwa kenyataan paling dasar bukanlah cakrawala kemengadaan, melainkan munculnya orang lain di depan kita. Artinya metafisika haruslah bertolak dari kenyataan orang lain, dari kelainannya sebagai fakta yang tidak dapat dicaplok dalam filsafat penyamaan (identitas). Dengan kerangka berpikir secara normatif-etis-fundamental, penulis ingin menunjukkan bahwa unsur kekerasan yang berujung pada pembunuhan, dalam tradisi carok pada masyarakatr Madura adalah harus ditolak. Karena sangatlah jelas bahwa tradisi carok dengan kekerasan sebagai aspek statismenya, telah menganggap sepi adanya keunikan dan keberlainan orang lain, yang harus dihormati, dijaga dan dilindungi keselamatannya. Dalam konteks ini para pelaku carok dapat dikatakan telah melakukan kejahatan kemanusiaan terhadap orang lain, telah melakukan tindak kriminalitas terhadap orang lain. Orang lain sama sekali tidak dihargai, dihormati dan dilindungi keberlainannya, justru para pelaku carok menganggap orang lain sebagai “musuh”, yang harus dihabisi nyawanya.

Orang lain dalam kacamata para pelaku carok diidentikkan dengan sampah, yang dianggap merusak tatanan sosial, dianggap meruntuhkan kewibawaan dan status sosial dirinya sebagai oreng jago/bejingan/belantik. Ketiadaan penghargaan, penghormatan dan perlindungan terhadap orang lain dalam tradisi carok merupakan indikasi kuat bahwa sikap pembenaran masyarakat Madura terhadap carok, tidaklah ditopang oleh dasar yang kuat, setidaknya perlu dikaji ulang dari segi normatif-etis-fundamental. Oleh karena itu tradisi carok tetaplah tindakan (perilaku) kekerasan dalam berbagai sebab dan motifnya, yang harus dilihat sebagai tindakan kejahatan terhadap orang lain dan tidak dapat dibenarkan keberadaannya.

KESIMPULAN

Refleksi atas tradisi carok sebagai substansi yang relasionalistik tertuang dalam relasi antara “Yang Satu” dengan “Yang Banyak” berupa ungkapan abango’ poteya mata etembang poteya tolang”. Relasi antara “Yang Tetap” dengan “Yang Berubah” tertuang dalam struktur kenyataan tradisi carok yang berkaki dua. Satu kaki berada dalam karakter khas masyarakat Madura, satu kaki pada budaya Madura yang selalu dinamis. Relasi antara aspek “Transendensi”

dan “Imanensi” tertuang dalam aspek sosialitas dan individualitas tradisi carok.

Tradisi carok memperoleh pembenaran dari masyarakat Madura berupa justifikasi dan legitimasi secara sosial-budaya yang didasarkan atas tolok ukur normatif-ontologis-transendental. Refleksi atas tradisi carok sebagai substansi yang substansionalistik tertuang dalam aspek otonomi berupa keunikan dan keberlainannya, yaitu pada aspek penyebab (pelecehan harga diri dan perasaan malu) dan pada aspek caracara melakukan carok. Sedangkan aspek statisme tradisi carok terletak pada unsur kekerasan yang berujung pada pembunuhan, yang bersifat inheren. Aspek normatif tradisi carok dengan menggunakan tolok ukur kebenaran

normatif-etis-fundamental tidaklah dapat dibenarkan dan merupakan kejahatan kemanusiaan terhadap penghargaan, penghormatan, perlindungan dan keselamatan atas keunikan dan keberlainan orang lain.

DAFTAR PUSTAKA

Rounded Rectangle: DAFTAR PUSTAKA

Dibyasuharda, 1990, Dimensi Metafisik dalam Simbol, Ontologi Mengenai Akar Simbol, Disertasi Fakultas Filsafat UGM, Yogyakarta.

Imron, D.Z., 1986, Menggusur Carok, Makalah dipresentasikan pada seminar tentang “Carok, Sebuah Fenomena Masyarakat Madura”, diselenggarakan oleh Harian Memorandum, Surabaya: 23 Maret.

Joko Siswanto, 1995, Metafisika Substansi, Tesis, Fakultas Filsafat UGM, Yogyakarta.

Latief Wiyata A., 2002, Konflik Kekerasan Dan Harga Diri Orang Madura, LkiS, Yogyakarta.

Solomon, Robert, C., & Higgins, Kathleen M., 1996, A Short History of Philosophy, Oxford University Press, New York, Alih Bahasa: Saut

Pasaribu, 2002, Sejarah Filsafat, Yayasan Bentang Budaya, Yogyakarta.

Sontag, Frederick, t.t., Problems of Metaphysics, Chandler Publising Company Pensylvania, Alih Bahasa: Cuk Ananta Wijaya, 2002, Pengantar Metafisika, Pustaka Pelajar, Yogyakarta.

Suseno, Franz Magnis, 2000, 12 Tokoh Etika Abad Ke-20, Kanisius, Yogyakarta.

Touwen-Bouwsma, E., 1989, “Kekerasan di Madura” dalam Huub de Jonge (ed.), Agama, Kebudayaan dan Ekonomi:Studi-studi interdisipliner tentang Masyarakat Madura, Rajawali Press, Jakarta.

RIWAYAT HIDUP

Rounded Rectangle: RIWAYAT HIDUP

Tulus Budi Santoso dilahirkan di Pamekasan 12 Januari 1970. Walaupun bukan keturanan asli Madura Bapak Jawa Ibu Madura tetapi dibesarkan di kecamatan Pakong kabupaten Pamekasan Madura. Selama enam tahun sekolah di SDN II Lawangan Daya Kecamatan Pademawu, pada tahun 1983 sampai dengan 1996 sekolah di SMPN II Pamekasan dan pada tahun 1989 lulus di SMAN II Pamekasan.

Pada 1989 sampai dengan 1994 lulus di Fakultas Ekonomi di Universitas 1945 Surabaya dan mulai mengabdikan diri disebuah yayasan AL-HAMIDY Pamekasan sambil menyelesaikan Akta IV di Universitas SROEJI Jember dan pada tahun 2007 telah menyelesaikan S2 di STM “IMNI” Jakarta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: